ANALISIS RASIO KEUANGAN
Supiani
Universitas Gunadarma Jakarta
A. Pengunaan Analisis Rasio Keungan
Laporan keungan merupakan media informasi yang digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk melaporkan keadaan dan posisi keungannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan , terutama bagi pihak kreditur, investor dan pihak-pihak manajemen dari perusahaan itu sendiri.
Dengan menggunakan analisis rasio akan membantu stakeholder dalam hal :
- Memberikan dasar dalam meramalkan prospek perusahaan dimasa yang akan datang.
- Memberikan petunjuk atau gejala-gejala yang timbul dari informasi yang disajikan.
- Memudahkan dalam menginteprestasikan laporan keuangan
Rasio keuangan merupakan suatu bentuk rumusan matematis yang menunjukan hubungan diantara angka-angka tertenntu. Dalam analisis keuangan angka-angka berasala dari data-data keuangan, analisis rasio mampu menjelaskan hubungan antara variable-variabel yang bersangkutan sehingga dapat digunakan untuk menilai kondisi keuangan
Analisis rasio pada dasarnya terdiri dari dua macam perbandingan, yaitu :
- Dengan cara membandingkan rasio-rasio keuangan dari satu perusahaan tertentu dengan rasio keuangan yang sama dari perusahaan lain yang sejenis/industri (rasio industri) dalam waktu yang sama.
- Dengan cara membandingkan rasio-rasio waktu-waktu tertentu dengan rasio dari waktu-waktu sebelumnya dari perusahaan yang sama, cara ini akan membrikan informasi rasio dari waktu kewaktu sehingga dapat diketahui perkembangannya dan untuk proyeksi dimasa yang akan dating.
Adapun kelompok-kelompok rasio yang digunakan dalam analis laporan keuangan disesuaikan dengan kepentingan pihak kreditur, investor dan manajemen secara umum berdasarkan : 1) Rasio leverage, 2) Rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Disamping itu ada pengelompokan rasio dengnan cara lain yaitu : 1) Rasio-rasio neraca, 2) Rasio laporan rugi laba, 3) dan rasio gabungan antara neraca dan rugi laba (Hampton, 1995).
contoh soal : PT ABC mempunyai laporan rugi laba dan neraca tahun 1995-1996.
Laporan rugi laba PT. ABC
|
|
AKHIR |
TAHUN |
|
|
1996 |
1995 |
|
Penjualan Harga pokok brg dijual Laba kotor Biaya pemasaran adm dan umum Laba sbl bunga dan pajak Biaya bunga Laba sbl pajak Laba stl pajak Deviden Laba untuk saham biasa Alokasi laba ditahan Dividen |
Rp 3.405 2.041 1.368 812 552 31 521 193 328 10 318 291 27 |
Rp 3.100 1.900 1.200 780 420 39 381 141 240 10 230 200 30 |
Neraca PT ABC
|
Aktiva |
1996 |
1995 |
Utang & modal pemilik |
1996 |
1995 |
|
Aktiva lancer Kas & Surat bhrg Piutang dgng sediaan Lain-lain Total
Aktiva tetap Gedung,tanah & perleng’an Dikurangi akumulasi Defresiaisi Lain-lain total
Total Aktiva |
260
596 471 61 1,388
498
(152) 139 485
1.873 |
120
522 587 52 1.281
398
(105) 136 429
1.710 |
Utanglancar Utang dagang Utang bank Utang akrual Total utang lancer Utang jk panjang & lain-lain Total utang Saham priferen Saham biasa Capital again Laba ditahan Total modal pemilik
Total utang dan modal pemilik |
109 136 176 421 120
541 10 87 1235 1332
1873
|
301 166 148 615 61
676 10 80 944 1034
1710 |
A.1. RASIO LIKUIDITAS
Likuiditas adalah tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang harus segera dipenuhi dan likuiditas menunjukan tingkat kemampuan perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendek yang dimiliki (Brealey, Myer and Marcus, 1995). Dua faktor yang digunakan dalam rasio untuk mengukur likuditas perusahaan aktiva lancar dan utang lancar, yang disebut likuid adalah perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan jika tidak mampu disebut ilikuid.
Suatu keadaan likuid pada perusahaan berarti mengalami kerugian bagi kreditur dan bagi pihak managemen , Rasio likuiditas menunjukan efisinsi modal kerja yang ada.
1. Current Ratio
Curren ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dan utang lancar , Current ratio disebut juga working capital ratio :
Contoh : PT ABC
Carrent ratio = Aktiva lancer / utang lancer =1388:421 = 3.30
Current ratio menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar utangnya yang harus segera dipenuhi dan current ratio merupakan ukuran yang paling umum kesangggupan perusahaan untuk membayar jangka pendek.
2. Cash Ratio (Ratio of immediate solvency)
Aktiva perusahaan yang paling likuid adalah kas dan surat berharga hal yang menyebabkan laporan keuangan perlu dilihat cash ratio.
Kas + surat berharga
Cash Ratio =
Utang lancer
Cash ratio menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek dengan kas yang ada dan surat berharga yang segera dapat diuangkan.
3. Quitck Ratio (Acid test ratio)
Yang dapat digunakan untuk mendapatkan kepastian yang lebih besar daripada current ratio dlm mengukur perusahaan adalah quick ratio, dlm quick ratio hanya menggunakan beberapa elemen aktiva lancar yaitu kas, piutang dan surat berharga :
Aktiva lancar-sediaan
Quick ratio=
Utang lancar
4. Net Working Capital To Total Asset Ratio
Aktiva lancar adalah aktiva yang oleh perusahaan diharafkan dapat berubah menjadi kas dlm jangka pendek, utang lancar adalah semua kewajiban perusahaan yang jangka pendek harus dipenuhi. perbedaan antara utang lancar disebut Net working capital to asset ratio dan ini digunakan untuk menentukan kebijakan investasi dan dana yang diperoleh.
Net working capital to total asset rati = Aktiva lancer-utang lancar
Aktiva tetap
Persh PT “ABC” 1996 =1.388-421
1.873
= 0,52
5. Interval Measure (Defensive interval ratio)
Interval measure menghubungkan antara defensive asset dengan taksiran rata-rata pengeluaran kas untuk operasi dalam setiap harinya. Interval measure memberikan informasi kepada para kreditur untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk menutup biaya minimum rutin yang dibutuhkan dalam kegiatan operasi yang paling utama.
Interval measure = Kas+Surat berharga+Piutang
Taksiran rata-rata pengeluaran
Untuk perusahaan PT”ABC”
= 260+596
(2041+812)/365
= 109,5 Hari
A.11. RASIO LEVERAGE
Rasio leverage digunakan untuk mengukur besarnya dana untuk menanam modal oleh para pemilik dengan proposinya dengan dana yang diproleh dari para kreditur perusahaan (Brealey, Myer and marcus, 1995). Rasio-Rasio leverage dihitung dengan dua cara : pertama, risiko utang diukur dari sudut laporan rugi laba. kedua, data neraca diamati dan digunakan untuk dapat mengetahui jumlah dana dan proporsi pinjaman yang digunakan perusahaan.
1. Total Debt to Total Capital Asset Ratio (Debt Rasio)
Rasio ini membandingkan antara jumlah total utang dengan aktiva total yang dimiliki prusahaan. Biasanya para kreditur lebih menyukai rasio utang yang rendah karena semakin rendah rasio utang dari perusahaan yang diberi kerdit akan semakin besar tingkat keamanan yang didapat kreditur diwaktu likuiditas.
Debt Rasio = Total Utang
Total Aktiva
Untuk perusahaan ABC = 541/ 1.873 = 0.283
2. Total Debt to Equity Ratio
Rasio ini membandingkan total utang dengan total modal pemilik (ekuitas) digunakan untuk mengetahui berapa bagian modal pemilik yang digunakan untuk menjamin utang lebih besar dibandingkan dengan modal pemilik.
Debt to equity ratio = Total Utang
Modal pemilik
3. Long Term Debt To Equity Ratio
Rasio ini membandingkan antara utang ajngka panjang dan modal pemilik, rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal pemilik untuk menutup utang janka panjang semakin rendah rasio semakin aman bagi kreditur.
Long term debt to equity ratio = Utang jangka panjang
Modal pemilik
4. Tangible Asset Debt Coverage
Rasio ini membandingkan antara aktiva tidak berwujud (setelah dikurangi utang lancer) dan utang jangka panjang dan rasio ini meninjukan kamampuan perusahaan untuk membayar utang jangka panjang setelah melunasi jangka pendek.
Tangible Asset debt Coverage :
= Aktiva-aktiva tidak berwujud-utang lancar
Utang jangka panjang
5. Time Interest Earned (Interest Coverage)
Rasio ini membandingkan antara laba sebelum bunga dan pajak dan utang jangka panjang, rasio ini menunjukkan seberapa jauh laba sebelum bunga dan pajak dapat berkurang untuk membayar untuk membayar bunga utang jangka panjang.
Time interest earned = Laba sebelum bunga dan pajak
Bunga utang
6. Debt Service Coverage
Rasio ini menghitung kemampuan perusahaan untuk memenuhi beban tetapnya dengan memasukan unsur pembayaran pokok atau cicilan pokok pinjaman.
Debt Service Coverage = Laba sebelum bunga dan pajak
Bunga utang jangka panjang+ biaya sewa + Angsuran pokok pinjaman
7. Earning Variabiliti
Jumlah beban utang yang besar akan menjadi masalah besar jika terdapat ketidak pastian risiko pada laba dimasa yang akan datang, Semakin tinggi paribelitas perusahaan menunjukan ketidak pastian diperoleh laba pada perusahaan.
Earning Variability = Strandar Deviasi (EBIT-EBIT)
Rata-rata EBIT
A.111. RASIO AKTIVITAS
Rasio aktvitas adalah rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh efektivitas penggunaan dana yang digunakan perusahaan (Horne and Wachowicz, 1995).
1. Total Operating Asset Turnover
Total aktiva yang bekerja adalah rasio yang membandingkan antara penjualan bersih dan seluruh aktiva yang digunakan dalam suatu periode.
Total operating asset turnover = penjualan bersih
total aktiva
Untuk perusahaan ABC tahun 1996 = 3.405 / 1873 = 1818
Rasio ini menunjukkan kemampuan perputaran dana yang tertanam dalam suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu.
Rasio ini mempunyai kelemahan yaitu rasio ini hanya menunjukkan hubungan penjualan atau penghasilan dengan aktiva yang digunakan dan tidak memberikan gambaran tentang laba yang di peroleh. Kelemahan lain adalah bahwa penjualan yang digunakan hasil dari 1 periode saja dan tingkat penjualan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor–faktor yang tidak dapat dikendalikan perusahan.
2. Receivables Turnover
Receivables ini adalah rasio yang membandingkan antara penjualan kredit bersih dan piutang dagang rata-rata atau piutang akhir periode. Rasio ini digunakan untuk menunjukkan kemampuan yang tertanam dalam piutang berputar dalam periode tertentu.
Perputaran piutang = Penjualan kredit bersih
rata-rata
Untuk perusahaan PT “ABC” tahun 1996
3.405**) = 6,09
(596 + 522)/2
3. Average Collection Periode
Average collection periode / rata-rata periode pengumpulan piutang digunakan untuk menghitung waktu atau hari rata-rata dana tertanam dalam piutang.
Average collection periode = 360 hari
perputaran piutang dagang
= 360 hari . piutang dagang rata-rata
Penjualan kredit bersih
4. Perputaran sediaan
Perputaran sediaan ( Inventory ) membandingkan antara harga pokok barang dijual dan sediaan rata-rata atau sediaan akhir periode.
Perputaran sediaan = penjualan bersih
barang dagangan rata-rata sediaan pada harga jual
atau
perputaran sediaan = harga pokok barang dijual
barang dagangan rata sediaan pada harga pokok barang dijual
Pada perusahaan manufaktur memiliki 3 macam sediaan yaitu:
sediaan bahan baku, sediaan barang dalam proses, dan sediaan barang jadi. Tingkat perputaran pada ketiga macam sediaan dihitung dengan cara sbb:
Perputaran Sediaan = Biaya Bahan Baku yang Digunakan
Bahan Baku Rata-rata sediaan Bahan Baku
Perputaran Sediaan = Harga Pokok Produksi
Rata-Rata Sediaan Barang Dalam Proses
Perputaran Sediaan = Harga Pokok Barang Dijual
Barang Jadi Rata-Rata Sediaan Barang Jadi
5. Average Day’s Inventory
Ialah hari rata-rata sediaan atau hari rata-rata disimpan, menunjukkan hari rata-rata dana tertanam dalam sediaan.
Average Day’s Inventory = Sediaan Rata-rata x 365 hari
Harga Pokok Barang Dijual
Inventory Rata-Rata = Sediaan Awal + Sediaan Akhir
2
6. Net Working Capital Turnover
Perputaran modal kerja neto ialah rasio yang membandingkan antara penjualan bersih dan modal kerja (neto).
Net Working Capital Turnover = Penjualan Bersih
Rata-rata Modal Kerja Bersih
7. Fixed Assets Turnover
Perputaran aktiva tetap ialah rasio yang membandingkan antara tingkat penjualan bersihdan aktiva tetap bersih.
Fixed Assets Turnover = Penjualan Bersih
Aktiva Tetap Bersih
A.IV. RASIO PROFITABILITAS
Rasio profitabilitas menunjukan hasil akhir yang telah dicapai dari berbagai kebijakan dan keputusan yang telah diambil (Brealey, Myer, Marcus. 1995)
1. Gross Profit margin
Merupakan perbandingan antara laba dan penjualan bersih, rasio ini menunjukan berapa bagian dari penjualan yang merupakan laba kotor.
Gross Profit Margin = Laba kotor
Penjualan bersih
Pada Perusahaan ABC
= 1364/3405 = 0.4
laba kotor= penjualan bersih-harga pokok barang jual
2. Operating income Ratio (Opearting profit margin)
Rasio ini membandingkan antara laba sebelum bunga dan pajak dan penjualan bersih.
Perating income ratio = Laba sebelum bunga dan pajak
Penjualan bersih
3. Operating Ratio
Merupakan rasio yang membandingkan antara semua biaya operasi (Harga pokok penjualan + Biaya pemasaran + Biaya adm) rasio ini menunjukan berapa bagian biaya yang digunaka untuk biaya operasi.
Operating ratio = Biaya operasi
penualan bersih
4. Net Profit Margin
Adalah ratio yang membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dan penjualan bersih untuk menunukan berapa besar bagian dari penjualan bersih yang menjadi laba stl bunga dan pajak.
Net Profit Margin =Laba setelah bunga dan pajak
penjualan bersih
5. Earning Power Of Total Inverstmen
Earning power of total inversment adalah rasio yang membandingkan antara laba sebelum bunga dan pajak, Rasio ini menunjukan tingkat pengendalian dari investasi yang telah ditanam sebelum bunga dan pajak.
Earning power of total inversment= Laba sebelum bunga dan pajak
Jumlah aktiva yang bekerja
6. Net Earning Power Ratio
Adalah rasio yang membandingkan laba setelah bung adan pajak setelah bunga dan pajak dengan jumlah aktiva kerja.
Net Earning Power Ratio = Laba setelah bunga dan pajak
Jumlah aktiva yang bekerja
7. Rate of Return For The Owners
Adalah rasio yang membandingkan antara laba bersih (laba setelah bunga dan pajak) dan jumlah modal pemilik.
Rate of Return For The Owners = Laba bersih
Modal pemilik
B. PENGGUNAAN ABALISIS TREND
Analisis trand digunakan untuk mengadakan perbandingan rasio dari waktu kewaktu yang akan memberikan inpormasi rasio tertentu dari waktu kewaktu untuk mengetahui perkembangannya. Adapun jenis trend yang akan digunakan :
1. Trend lincar dengan kuadrat terkecil
Kriteria-kriteria yang dapat digunakan dalam memakai trend lincar adalah :
- Jika penggambaran data asli dalam kertas berskala hitung cendrung mempunyai pola linear.
- Jika selisih nilai Y’ cendrung konstan.
Bentuk persamaan : Y’ = a+bx
2. Trend parabolik
Kriteria yang dapat dipakai dalam trend parabolic apabila gambaran data asli kertas bersekala hitung berbentuk parabola atau garis lengkung.
Bentuk persamaan : Y’=a+bx+cx
3. Trend eksponensial
kriteri yang dapat dipakai untuk menggunakan trend ekponensial :
Apabila penggambaran data asli pada kertas yang berskala hitung tidak punya pola yang sama.
- Jika selisih pertama dari nilai data-data logaritma cendrung konstan.
- Jika penggambaran data sli pada kertas bersklala cendrung berpola linear.